[FF berantai] Flechazo : Complicated

Fleca_zho

Flechazo ~ Complicated | By Yumichan

Chanyeol and others || Romance, Friendship, Comedy, Fluff, School Life || General

Prev : Prolog | Clueless | Drama | Puzzled | The Other Side | Ups ! | Heart Attack | Suddenly | Crazy Plan | Comeback | Unofficial | Tell You | The Answer

~ Dengan begitu Chanyeol terpaksa mengubur jauh-jauh hasratnya untuk mengumpulkan potongan puzzle yang tersisa ~

–FLECHAZO–

Untuk keseratus kalinya Chanyeol bernafas gusar. Satu jam berlalu sejak ia merebahkan diri di ranjang, dan yang ia lakukan hanyalah memandangi noda mencurigakan pada langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Chanyeol sepenuhnya tenggelam di bagian terdalam kolam merana dan tak berniat keluar. Bahkan empat jam memori indah bersama Sumin tidak bisa membuat bibirnya terulur barang seinchi.

Alasannya sederhana; ia ditolak, tapi menjadi rumit berkat beberapa faktor terkait.

Sumin memang memberi alasan yang masuk akal dan dengan bahasa sehalus mungkin, namun tetap saja fakta pahitnya adalah ia ditolak. Garis bawahi itu !

Sebenarnya Chanyeol merasa beruntung karena Sumin tidak menatapnya jijik usai mendengar gombalan murahannya. Demi Republik Korea Selatan ! saat itu Chanyeol ingin sekali menceburkan diri ke dalam kolam ikan di belakang Sumin. Dan terjun dari atas bianglala adalah opsi pertama yang akan dia lakukan jika seandainya Sumin melepas puluhan balon pemberiannya, menamparnya dan melengkapi kisah tragisnya dengan melarikan diri sambil menyumpahi dia brengsek atau apalah.

Yeah, setidaknya Chanyeol masih memiliki harapan, mengingat Sumin berkata ia tidak ingin terburu-buru dan maju selangkah demi selangkah. Tapi di saat Sumin baru mengambil langkah awal, Chanyeol mungkin sudah ada di surga. Karena Chanyeol akan tamat tiga hari lagi berkat taruhan tololnya dengan Park Yoora, kakak perempuannya yang sebenarnya enggan ia akui kakak jika bukan karena kartu keluarga.

Baiklah, Chanyeol masih punya rasa sayang pada Yoora.

Meski hanya sedikit.

Dan Chanyeol tidak bisa memprediksi jenis penyiksaan apa yang akan dilakukan Yoora nanti. Jika kau mau tahu kekejian Yoora, kakaknya itu pernah mengganti isi pembersih wajah Chanyeol dengan shampo, mengisi kotak susu coklatnya dengan susu ibu menyusui, bahkan pernah menukar label minuman ginseng miliknya dengan minuman herbal obat dismenore. Bayangkan saja rasanya jika kau berada dalam posisi Chanyeol. Itu hanyalah contoh kecil dari kenakalan rahasia Yoora, belum termasuk hukuman atas taruhan mereka selama ini. Sungguh, jika saja ada sistem pertukaran keluarga, Chanyeol amat sangat rela Yoora ditukar dengan saudara orang lain. Sandara Park misalnya.

Karena itulah Chanyeol tidak akan menyerah mendapatkan Sumin sebelum jatuh tempo. Chanyeol tidak mau lagi menjadi korban kezaliman Yoora. Chanyeol harus mencari cara memenangkan taruhan. Mungkin dengan menyerang sistem pertahanan Sumin, menebarkan pesona dengan gencar, dan memikat gadis itu dengan sikap jantannya. Bagaimana pun juga Chanyeol punya daya tarik. Dia tampan dan tinggi, dan ibunya selalu menyanjungnya ke mana-mana. Jadi tidak mungkin Sumin tidak tertarik.

Yeah, mungkin ia juga harus menulis selembar surat wasiat sebagai antisipasi kemungkinan terburuk. Hanya untuk antisipasi !

Tetapi dibanding itu semua, yang menjadi pikiran utama Chanyeol saat ini adalah lelaki yang dipanggil ayah oleh Sumin. Lidah Sumin boleh saja melafalkannya dengan fasih, tapi tak ada sosok ayah di mata Sumin. Yang terpancar hanyalah kombinasi antara kemarahan dan kebencian. Dan ketika Sumin berkata, “Untuk apa appa datang ?” dengan suara bergetar, Chanyeol yakin ada gelombang ketakutan di sana.

Pria itu tak ada bedanya dengan perawakan ayah lainnya. Hanya saja ada sisi ganjil yang Chanyeol temukan. Entahlah. Mungkin akibat pengaruh ucapan Jongin yang berkata ayah Sumin seorang pedofilia sehingga ia mau tak mau mencari celah negatif dari penampilan lelaki berkumis tipis itu.

Saat itu Chanyeol berdiri dengan tenang, ketika ayah Sumin akhirnya membuka mulut,

“Mana ibumu dan Eunjoo ?” lelaki itu maju, dan secara refleks Sumin menyeret kakinya mundur. Semakin ayah Sumin mendekat, maka Sumin semakin mundur, layaknya dua kutub magnet yang sama.

“Ja-jangan mendekat !” Sumin berseru, namun lagi-lagi dengan suara bergetar yang amat kentara, sehingga pria itu nampak enggan mengindahkan perintah Sumin.

Sudah jelas Sumin takut pada ayahnya sendiri. Apakah itu mengindikasikan bahwa ayah Sumin seorang pedofil ? jika itu benar, jika Sumin takut pada ayahnya, apakah itu berarti Sumin pernah mengalami masa lalu yang pahit ?

“Sudah kukatakan jangan libatkan aku dan Eunjoo, APA KAU TIDAK MENGERTI ?”

Untuk pertama kalinya Chanyeol mendengar Sumin menjerit. Dengan begitu keras. Membuat Chanyeol terlonjak meski pekikan itu bukan ditujukan kepadanya.

Seonbae, sebaiknya kau pulang saja” kata Sumin kala itu. Terdengar dingin, bahkan masih renyah di telinga Chanyeol sampai sekarang. Sumin berubah dalam sekejap. Lalu saat itulah Chanyeol menyadari bahwa ia belum mengenal Sumin dengan baik.

Chanyeol ingin mengenal Sumin lebih jauh, Chanyeol ingin tahu segalanya tentang Sumin, dan Chanyeol ingin membantu Sumin sebisa mungkin. Tetapi saat ia akhirnya bersikap heroik, Sumin justru menghardiknya,

“Ini bukan urusanmu !”

Ya, Chanyeol memang tidak berhak ikut campur dalam kemelut kehidupan Sumin. Tapi tak ada salahnya kan jika setidaknya ia paham kondisi gadis itu ?

Sekali lagi Chanyeol mendesah panjang. Rasanya ada yang tengah mengukus otaknya sehingga cairan serebrumnya menguap bersama udara. Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih betah di posisi yang sama dan ia bersikukuh akan berdiam seperti itu sepanjang malam jika saja bunyi ponsel tak merusak ritualnya. Chanyeol melenguh, suasana hatinya cukup buruk untuk mengecek layar ponsel, tetapi diteror dengan bunyi notifikasi yang konsisten lama kelamaan membuatnya gemas juga.

Baekhyun

Mana tokoh utama kita hari ini ?

Chanyeooooool… mana Chanyeooool

Jongin

Sudahlah hyung, tidak usah mencari seseorang yang sudah punya tambatan hati

Baekhyun

Maksudmu apa Jongin ?

Jongin

Aku tahu kau kesepian hyung, tapi relakan Chanyeol hyung dengan Baek Sumin

Jongdae

HAHAHA XD

Baekhyun

HAHA. Lucu sekali -_-

Chanyeol

Berisik sekali kalian

Baekhyun

Cieee yang baru jadian tidak mau diganggu

Jongdae

Cieeee yang bertanya tapi berusaha tegar XD

Baekhyun

Hentikan itu troll. Saudara jauhku nanti cemburu

Jongin

Bagaimana hyung ?

Chanyeol

Bagaimana apanya ? -_-

Baekhyun

Ayolah cassanova, ceritakan pada kami kelanjutan kencan kalian

Jongin

Hyung, besok kita acara apa ?

Jongdae

Omong-omong mana Sehun dan Kyungsoo ?

Jongin

Aku bersama Sehun tapi dia sedang BAB

Jongdae

Kau menemani Sehun buang air ? Eeeww…

Kyungsoo

Aku di sini

Jongin

=o= Lebih baik aku kencan dengan Soojung daripada mencium bau eek Sehun

Baekhyun

Itu sih maumu -___-

Kyungsoo

Aku sedang memasak jadi tidak bisa membalas chat

Masakanku hampir hangus gara-gara kalian =____=

Jongdae

Rajin sekali pemuda ini :3

Aku pasti akan melamarmu kalau kau perempuan

Kyungsoo

Untung aku bukan perempuan -_-

Baekhyun

Yeol ?

Kau masih di sana ?

Jongdae

Sepertinya dia memang tidak ingin kita ganggu kawan-kawan

Jongin

Chanyeol hyung pasti sedang menelepon pacar barunya…

Suuit… suuuit

Chanyeol

1a5d9f55

Baekhyun

Ada apa ? ada apa denganmu ?

Chanyeol

425179d7583c5a5d12f5e0cb6edfa16d

Aku ditolak

Baekhyun

Moon-Special-Edition-3

APAAA ????

Jongdae

moon-shocked

 Jongin

Download-Moon-Turkey-Special-Stickers-Limited-Turkey

 Kyungsoo

images

 Sehun

line2

Chanyeol

1a5d9f55

Jongdae

Jangan chat sambil BAB Sehun-ah -__-

Baekhyun

Kenapa dia menolakmu ?

Jongdae

Itu karena kata-katamu terlalu norak Baekhyun

Chanyeol

Besok saja kuceritakan

Kyungsoo

Aku turut menyesal, Yeol 😦

Jongin

Jadi tidak ada makan gratis besok ?

Kalau begitu kita harus minta traktir pada Yoora noona XD

Chanyeol

Sial kau Jongin

Apa yang kau pikirkan hanyalah traktiran ?

Jongin

Cuma bercanda hyung ~o~ kau sensitif sekali

Chanyeol melempar ponselnya ke sudut ranjang, membiarkan benda itu bertalu-talu di bawah kakinya. Chat Jongin berhasil menendangangya ke fase frustasi tertinggi, meskipun ia tahu sebenarnya anak itu hanya bercanda. Tapi salahkan sentimennya yang sedang rentan, sehingga candaan sekecil biji wijen pun akan membuat batinnya dengan mudah bergeser ke kutub amarah.

-FLECHAZO-

“Jadi dia ingin agar kalian lebih mengenal dulu satu sama lain ?”

Anggukan lemah adalah jawaban terbaik yang bisa Chanyeol berikan atas kesimpulan Kyungsoo. Latihan drama belum dimulai dan nampaknya akan terlambat karena pembina mereka belum ada yang nampak. Karena itu di sinilah mereka, di sayap kiri aula, tengah mengerubungi Chanyeol alih-alih mendalami peran masing-masing.

“Yah, aku prihatin padamu kawan” Baekhyun duduk di samping Chanyeol, menepuk pundak Chanyeol dengan maksud menyemangati sahabatnya yang seakan-akan tengah mengumpulkan awan kelabu di atas kepala.

“Tapi diam-diam sebenarnya Baekhyun tersenyum” Jongdae menyikut Baekhyun. Gelak tawa Jongdae sudah di pangkal lidah tapi Baekhyun berhasil membekukan rahangnya dengan berkata, “Tidak lucu troll” sambil memasang raut terjengah yang pernah ia tampilkan.

“Lantas bagaimana ? Apa kau akan menyerah ?” tanya Kyungsoo usai menjitak Jongdae dan memastikan manusia itu menyesali leluconnya yang tidak berguna.

“Mana mungkin. Aku tidak akan menyerah semudah itu pada kakakku” kata Chanyeol bersemangat, tapi nafas frustasi terhempas dari hidungnya.

“Aku punya stok nomor ponsel siswi kelas dua, kalau hyung berminat misalnya”

“Untuk apa ?” alis Chanyeol menyatu selagi Jongin mengutak-atik ponsel.

“Pacar sewaan. Bukankah waktu hyung tinggal dua hari lagi ?”

Respon pertama Chanyeol adalah menghela nafas, “Baiklah, kalau begitu sesuaikan dengan kriteriaku. Dia harus secantik Sumin, tingginya minimal seperti Sumin, bola mata yang berkilau seperti Sumin dan memiliki senyum menawan seperti Sumin” dan Chanyeol langsung dikepung putaran bola mata dari lima sisi.

“Bilang saja kalau hyung hanya mau Baek Sumin” timpal Jongin, disusul sahutan Baekhyun, “Jadi kau hanya mau Baek Sumin ? Hya, salah satu dari kalian pergi photocopy Baek Sumin !”

Giliran Chanyeol yang memutar bola mata disaat yang lain sibuk cekikikan. Sebenarnya Baekhyun tidak bermaksud bercanda, ia justru geregatan terhadap Chanyeol. Tapi seperti biasa, mulut ajaibnya memproduksi kata sendiri tanpa perintah otak.

Diskusi mereka dalam sekejap berubah menjadi ajang pencarian ide licik yang membuahkan tawa alih-alih rencana jitu. Jongdae juga sempat menyelipkan topik festival band tapi Baekhyun membungkamnya dengan mengatakan situasi Chanyeol sudah memasuki gawat darurat dan mereka harus meprioritaskan misi PCDSBSMM atau apalah namanya.

Beberapa dari mereka memang mengajukan ide menarik seperti Jongdae yang berkata, “Kau beri saja foto Baek Sumin pada kakakmu dan bilang dia pacarmu.”

Juga Kyungsoo, “Kalau kau mau, aku bisa mengedit fotomu dengan Baek Sumin.”

“Bagaimana kalau aku memotret hyung diam-diam saat kau dan Sumin latihan berdua ? bukankah terlihat natural ?” dan itu gagasan Sehun.

Tapi Chanyeol menolak semuanya dengan alasan, “Aku tidak suka cara-cara curang,” sambil membuat wajah lesu yang sukses menggugurkan pohon kesabaran ke lima orang lainnya.

“Sok alim sekali kau,” Baekhyun mencibir.

Lain halnya dengan Kyungsoo yang berinisiatif mencekik Chanyeol jika saja Jongdae tidak menahan pundaknya, “Sabar Soo, kekerasan tidak menyelesaikan apapun,” Jongdae melanjutkan, “Lebih baik kita giring dia ke atap lalu dorong dia sampai jatuh,” dan dia langsung terkena jitakan untuk kedua kalinya.

“Bisakah kalian berpikir secara logika ? Bagaimana jika suatu saat noona-ku berpapasan dengan Sumin di jalan, menyapa Sumin sebagai pacarku tapi Sumin hanya menampilkan tampang idiot ?”

“Aku ingin tanya padamu hyung,” Sehun menatap Chanyeol lekat, membiarkan Chanyeol penasaran akan isi pertanyaannya, “Apakah hyung mengejar Sumin hanya karena taruhan ? kalau hanya sebatas itu, jujur saja aku kecewa padamu hyung.”

“Oho… Sehun kita sudah dewasa rupanya” celetuk Jongdae, sejurus dengan Baekhyun yang berseru, “Aku setuju dengan Sehun !” Kyungsoo juga mengangguk pertanda satu pemahaman, sementara Jongin tiba-tiba saja merinding, tidak menyangka bajingan sekelas Sehun bisa menyinggung ketulusan sementara mengejar gadis berbeda setiap bulan adalah rutinitas pemuda itu.

“Aku menyukai Sumin, sungguh.”

“Hey, apa menurutmu Sumin tidak akan kecewa jika dia tahu kau mengejarnya karena taruhan ?” kali ini Kyungsoo mengambil bagian. Satu pertanyaan Sehun berhasil menginduksi otaknya untuk melahirkan rentetan argumen. “Anggap saja kau berhasil mendapatkannya hari ini. Lalu apa yang akan kau lakukan ? mengenalkannya pada kakakmu ?”

Chanyeol terdiam. Bahkan jika itu bukan sekedar retorika, bibir Chanyeol hanya bisa terkatup rapat.

“Kurasa itu tidak adil untuknya” lanjut Kyungsoo tanpa menunggu jawaban, “Kau menyukainya tapi disisi lain kau memanfaatkannya sebagai solusi dari masalahmu.”

“Perasaan wanita itu sangat halus. Mereka nampak kuat namun sebenarnya hati mereka sangat rapuh.”

“Akan kukatakan bahwa aku tulus mencintainya. Dia pasti akan mengerti” ucap Chanyeol akhirnya setelah hampir tiga menit berlalu. Tapi bahkan saat ia meyakini perkataannya, opini Kyungsoo terus terngiang dalam benaknya.

“Kau memang menyukainya. Tapi cobalah berpikir dari sudut pandang perempuan. Apa menurutmu dia tidak kecewa atau sakit hati ?”

“Aku setuju dengan Kyungsoo” ucap Baekhyun, yang segera direspon gurauan oleh Jongdae, “Karena begitulah yang dirasakan Baekhyun”

“Benar !” Baekhyun berseru spontan, “Eh, apa ? Bukan itu maksudku !”

“Hahaha…. Kau baru saja mengakuinya Baek !” Jongdae terbahak-bahak. Menyusul Kyungsoo, Jongin dan Sehun yang bergabung dalam harmonisasi tawa Jongdae. Sementara Baekhyun tengah berupaya menahan hasrat untuk tidak menyumpal mulut Jongdae dengan naskah.

Di tengah itu semua, Chanyeol menyelami pikirannya sendiri, memikirkan kemungkinan yang terjadi jika Sumin tahu bahwa ia berniat mendapatkan gadis itu demi membuktikan kesalahan pola pikir Yoora. Walaupun Chanyeol yakin perasaannya murni, ia tidak menyangkal ada motif tertentu yang melatarbelakanginya. Dia mencintai Sumin tapi disisi lain dia berambisi memenangkan taruhan, dan seperti kata Kyungsoo, dia bisa melukai Sumin demi harga diri yang ia agung-agungkan. Sumin mungkin akan berakhir membencinya.

“Apa menurut kalian aku harus menyerah ?” kata Chanyeol setengah bergumam, membuat atmosfer dalam lingkaran mereka yang semula hingar kembali tenang.

“Jadi perasaan hyung memang hanya setengah-setengah. Jika hyung laki-laki harusnya kau-”

“Siapa bilang aku menyerah pada Sumin ?” Chanyeol segera menyela racauan Sehun, “Maksudku menyerah pada kakakku.”

“Prajurit memang harus siap mati” tanggap Baekhyun.

“Perlu kuingatkan padamu Baek, kau juga ada dalam daftar tertuduh”

“Oh… yeah, betul juga,” Baekhyun menyandarkan diri, sambil bertanya-tanya mengapa ia juga mesti terlibat dalam delusi kakak Chanyeol. Ini jelas merusak citranya sebagai keyboardist. “Bagus sekali kalau kita berdua muncul di hadapan kakakmu bersama pacar kita masing-masing.”

“Aku punya ide cemerlang,” cetus Jongdae tiba-tiba sambil menjentikkan jari, hanya untuk membuatnya terlihat lebih mendramatisir. “Bagaimana kalau Baekhyun menembak kakak Chanyeol ? secara tidak langsung itu akan mematahkan spekulasi bahwa kalian gay bukan ? dengan begitu permainan otomatis GAME OVER”

TTAK

Hya, kenapa kalian menjitakku ?” Jongdae mengerang, mengelus batok kepalanya yang sudah tiga kali dijitak.

“Apa kau gila ? untuk apa aku menembak Yoora noona ? Kau tidak tahu betapa galaknya wanita itu ?” Dibayar dengan tiket konser Girls’ Generation pun Baekhyun tak akan sudi. Yang kita bicarakan adalah kakak Chanyeol, Park Yoora, wanita pertama yang ingin Chanyeol gantung di atas Namsan tower. Dan Jongdae dengan enteng menyebut itu ide cemerlang, seolah ia mengusulkan pergi ke tempat karaoke, bukannya pacaran dengan kakak Chanyeol. “Maaf Yeol, tapi kakakmu benar-benar sesuatu. Aku akan berpikir seribu kali untuk melakukannya.”

Yeah. Lagipula aku juga akan berpikir seribu kali jika kau benar-benar menembak kakakku. Aku tidak mau punya kakak ipar semacam dirimu” kata Chanyeol sambil membayangkan Baekhyun dan Yoora berkolaborasi membuatnya sengsara. Ia tiba-tiba merinding.

“Astaga, itu hanya akting, akting !” Jongdae meyakinkan, “Kau tidak benar-benar berkencan dengannya atau apalah. Hanya sekedar menegaskan bahwa kalian tidak gay, oke !”

“Kita simpan gagasan Jongdae,” Kyungsoo menyela, “Bagaimana kalau kita pukul kepala kakakmu agar dia lupa akan taruhan kalian ?” katanya kepada Chanyeol dengan mimik serius, yang langsung disambut pekikan alto sang objek,

“Itu lebih gila lagi Do Kyungsoo ! kau mau membantuku atau mau menjadi pelaku kriminal ?”

Dan lagi-lagi mereka terbahak-bahak. Sampai beberapa saat kemudian guru Kim datang dan langsung mengintruksikan para murid mengambil posisi bersama lawan main. Chanyeol tidak sempat bercerita perihal pertemuannya dengan ayah Sumin yang diduga pedofilia, dan bagaimana Sumin berubah dalam waktu singkat. Tidak. Sebenarnya Chanyeol tidak mau membahas hal itu. Mungkin lain kali, jika ia sudah tahu yang sebenarnya.

Chanyeol berkeliling, mencari Sumin dari ujung ke ujung aula sambil memikirkan apa yang harus ia katakan ketika berhadapan nanti, mengingat kata perpisahan Sumin kemarin berupa pengusiran sepihak. Sumin juga membentaknya. Dan ditambah ia ditolak. Lengkap sudah permasalahannya.

Tapi Chanyeol tidak menemukan sosok gadis itu di mana pun. Apakah Sumin menghindarinya ? Chanyeol bertanya-tanya dalam hati ketika seseorang mengejutkannya.

“Kalau seonbae mencari Sumin, dia tidak datang hari ini”

Terperanjat, Chanyeol berputar dan mendapati Soojung dengan naskah yang tergulung dalam genggamannya. “Apa kau tahu kenapa dia tidak datang ?”

Soojung mengendikkan bahu, “Entahlah. Tidak ada kabar. Ponselnya juga tidak aktif. Kalau seonbae ingin teman berlatih- hey !!” ucapan Soojung terpaksa berubah menjadi seruan ketika Chanyeol tiba-tiba menarik lengannya.

Chanyeol membawa Soojung keluar dari aula sebelum mata Jongin berhasil menemukan Soojung dan merusak kesempatannya mengorek informasi. Jongin juga pasti akan membombardirnya pertanyaan seputar apa yang ia bicarakan dengan gadis pujaannya.

“Kau cukup akrab dengan Baek Sumin, kan ?”

“Semua gadis di kelasku akrab denganku”

“Aku… ingin menanyakan sesuatu tentang Sumin,” Chhanyeol sedikit bimbang berhubung ini menyangkut masalah pribadi Sumin. Dan entah mengapa ada satu bagian dalam diri Chanyeol yang belum siap mendengar kenyataan.

Soojung mengangguk, “Oh, begitu rupanya. Aku mengerti,” bibir Soojung secara alami mengembang, tapi dengan cara yang aneh, sehingga membuat kening Chanyeol justru berkerut tak paham. “Dia tidak punya pacar, jadi seonbae boleh maju”

“Apa ?”

Kali ini mata Soojung memicing nakal, “Eheiii… Bukankah seonbae ingin menanyakan hal-hal seperti, ‘apa dia punya pacar ?’, ‘tipe pria apa yang dia suka ?’, dan ‘apa hobinya ?’ jujur saja seonbae menyukai Sumin, kan ?”

“Tidak. Maksudku bukan begitu !”

Bibir Soojung masih tertarik seolah merayu Chanyeol untuk berterus terang, dan Chanyeol termakan umpan gadis itu. “Baiklah aku memang menyukainya” Chanyeol menggaruk tengkuknya dengan kikuk, sedangkan Soojung nampak bergumam ‘assa’. “Karena itu aku ingin bertanya padamu”

“Oh, apa seonbae memintaku menjadi makcomblang ? boleh saja ! Sumin memang tertutup tapi tenang saja, aku dan Sumin lebih akrab dari Spongebob dan Patrick. Aku bisa mengatur waktu pertemuan seonbae dengannya dan seonbae sebaiknya mendengar nasihatku agar kau tidak gagal. Seonbae juga sebaiknya-“

“Jung Soojung, dengar !” Soojung bicara tiada henti dan jujur saja Chanyeol sudah gemas sedari tadi. “Aku sudah menyatakan perasaanku padanya kemarin” Chanyeol membuang nafas, mengabaikan mata Soojung yang kini melebar.

“Benarkah ? jadi apa jawabannya ? tidak, tunggu, biar kutebak. Seonbae ditolak, kan ? tentu saja ! seonbae tidak punya persiapan matang”

Sial. Dalam hati Chanyeol mendecih, seraya menekan emosinya yang naik satu tingkat. Dia jadi penasaran mengapa Jongin menyukai gadis semacam Soojung. Demi kerang abalon, Sumin seratus kali lebih baik dari Soojung. Dan lebih cantik. Dan dia lebih memesona.

“Apa kau tahu sesuatu tentang keluarga Sumin ? seperti apa ayahnya dan bagaimana kepribadian Sumin ?” tanya Chanyeol yang sudah kehilangan kesabaran.

Didetik itu pula Soojung tercengang. Suaranya melemah ketika ia berkata, “Maksud seonbae mengenai ayahnya yang pedofil ?”

“Eoh… dan kudengar… dia juga menderita semacam penyakit psikologi”

“Obsesif kompulsif” Soojung melengkapi, yang ditanggapi anggukan oleh Chanyeol. “Rumor itu beredar tahun lalu. Yang aku tahu keluarganya memang punya sedikit masalah. Sumin orang yang sangat tertutup, dia tidak pernah membenarkan ataupun menyangkal rumor itu. Kalau seonbae ingin tahu, seonbae bisa bertanya pada Myungsoo.” Mata Soojung bergerak dan tanpa sengaja menangkap sosok pria yang ia bicarakan dari kejauhan, “Oh, Itu dia. Myung-“

Soojung baru saja mengangkat tangan dan ia bahkan sudah siap memekik tiga oktaf namun Chanyeol dengan gesit mencegat usahanya.

“Kenapa kau memanggilnya ?”

“Kenapa ? karena Myungsoo sahabat Sumin sejak kecil jadi dia tahu segalanya”

“Itulah maksudku. Di dunia ini tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Dia pasti menyukai Sumin diam-diam”

Soojung memutar bola mata selagi Chanyeol memicing pada sang objek. Reaksi yang biasa dilakukan para gadis ketika melihat ada yang lebih cantik dari mereka, tapi anehnya kali ini dilakukan oleh laki-laki.

“Lagipula, aku tidak menyukainya. Dia terlihat seperti playboy, dia selalu berjalan dengan mulut terbuka tiga senti dan memamerkan lesung pipinya” racaunya dan lagi-lagi Soojung harus memutar bola mata. Setelah yakin bayangan Myungsoo menghilang di balik pintu aula, Chanyeol kembali menoleh pada Soojung, “Dan lagi, kukira kau hampir putus gara-gara dia.”

“Ya, itu memang benar. Tapi itu hanya salah paham.” Kepala Soojung berputar, sekedar memeriksa keadaan sekelilingnya yang sebenarnya sangat sepi, lalu mengode Chanyeol untuk mendekatkan telinga. Penasaran, Chanyeol mengikuti permintaan Soojung.

“Sebenarnya Myungsoo menyukai Luna” bisik Soojung, dan tepat setelah informasi itu Chanyeol tak bisa menahan diri untuk tidak terkejut.

“APA ?”

“Pssstt !! Karena itu dia meminta bantuan padaku karena Luna sahabatku”

Untuk sesaat Chanyeol merasa kasihan pada Kyungsoo. Kim Myungsoo sukses besar dalam proyek mematahkan hati para pemuda tahun ini. Tiga minggu lalu Jongin menjadi korban pertama karena gosip kedekatan Myungsoo dengan Soojung. Dua minggu lalu dirinya yang sempat gelisah karena hubungan Myungsoo dengan Sumin. Dan sekarang Kyungsoo yang menjadi target berikutnya. Mereka bertiga mungkin harus bersekutu menenggelamkan Myungsoo di Laut Kuning untuk mencegah korban semakin bertambah.

“Dia dan Sumin benar-benar hanya sebatas teman, tidak lebih,” Soojung melanjutkan. “Seonbae tunggu di sini, akan aku panggilkan Myungsoo” katanya, lantas melesat pergi sebelum Chanyeol berkata setuju.

-FLECHAZO-

“Orang tua Sumin bercerai sekitar enam tahun lalu. Penyebabnya tak lain karena ayah Sumin punya kelainan seksual. Ayah Sumin berubah protektif sewaktu Sumin menginjak sebelas tahun. Awalnya ibu Sumin hanya menganggap hal itu sebagai kasih sayang orang tua. Tapi semua berubah pada suatu hari. Aku tidak tahu bagaimana kejadiannya, tapi orang-orang di lingkunganku tiba-tiba saja mencap ayahnya sebagai pedofil. Aku tidak bisa lagi menemui Sumin pasca kejadian itu. Dia juga tidak lagi pergi ke sekolah. Beberapa hari setelahnya Sumin dan ibunya pindah ke Busan. Kabarnya untuk pemulihan mental Sumin. Dan dua tahun lalu mereka akhirnya kembali dan menetap di sini.”

Tiap kalimat Myungsoo masih terekam jelas dalam piringan memori Chanyeol. Satu jigsaw raksasa nyaris berhasil ia susun kecuali pada bagian di mana Myungsoo ‘tidak tahu bagaimana kejadiannya,’ dan mungkin beberapa bagian lagi. Chanyeol juga sempat menanyakan perihal Sumin yang kabarnya mengidap gangguan psikologis, dan saat itu Myungsoo menjawab,

“Sumin memang trauma, tapi tidak sampai membuatnya menderita obsesif apalah itu. Kau bisa menilainya sendiri. Apakah menurutmu dia kelainan psikologis ?”

Ukhh, Ini sungguh membuat benang dalam otak Chanyeol kusut tak karuan. Selama Chanyeol bersama Sumin, gadis itu memang tidak pernah menunjukkan gejala yang serupa seperti yang ia baca dari beberapa referensi. Dan Chanyeol tidak mau mengambil kesimpulan sebelum menemukan kepingan puzzle terakhir. Meski begitu ia tidak bisa menghilangkan kenyataan pedofilia dalam pikirannya. Terlebih ketika mengingat reaksi Sumin saat melihat ayahnya kemarin.

Bus yang Chanyeol tumpangi baru saja melewati halte tempatnya turun. Dia tidak lupa memencet bel karena terlalu lama melamun. Tidak. Sebelum pulang tadi Soojung menitipkan tugas Sumin padanya dengan dalil tidak bisa pergi ke rumah Sumin dan kebetulan rumah Chanyeol hanya beberapa blok dari tempat tinggal Sumin. Tapi Chanyeol tahu alasan Soojung yang sebenarnya,

“Bilang saja kalau kau mau pergi berkencan”

Soojung menggerling, “Dan bilang saja seonbae ingin menemui Sumin dan berterima kasih padaku karena aku memberikan alasan yang tepat.” Chanyeol juga terpaksa mengakuinya melalui senyuman lebar.

Diawali nafas panjang, Chanyeol mengetuk pintu jati berplitur itu dengan pelan. Ia gugup bukan main. Otaknya belum menyiapkan obrolan menarik selain salam sebagai basis. Lima kali ketukan namun belum ada sahutan dari dalam. Bahkan sebenarnya tidak ada tanda-tanda ada penghuni di rumah bercat krem itu. Chanyeol memutuskan hengkang, sejurus dengan itu sebuah suara berseru,

“Siapa ?”

Dan itu suara Sumin.

Sejenak Chanyeol merasa lega. Tapi tumpang tindih dengan perasaan grogi, jadi ia hanya bisa menjawab dengan gagap, “I-ini… a-aku…” Dua menit, tiga menit hingga lima menit berlalu namun tak ada lagi balasan dari Sumin.

“Aku Chanyeol…” ulangnya, berpikir Sumin mungkin tak mendengarnya tadi. Tak lama pintu itu terbuka sejengkal. Sumin mengintip dari balik sana, lengkap dengan hoodie putih dan celana training yang entah mengapa terlihat trendy walau sebenarnya biasa saja. Sumin adalah sosok gadis tercantik yang memenangkan hadiah pertama di hati Chanyeol. Bahkan dengan rambut yang dijepit asal-asalan dan tanpa polesan bedak, netra Chanyeol sudah melewati ketidaksempurnaan dan hanya akan menganggap itu cantik.

Seonbae, Ada perlu apa ?”

“Kudengar kau tidak datang” katanya, yang direspon Sumin dengan satu gumaman. Chanyeol menggeledah tas ransel hitamnya, mengambil lembaran-lembaran kertas berkisar lima halaman lalu menyerahkan kertas itu pada pemiliknya, “Soojung menitipkan ini untukmu”

Dengan bingung Sumin mengambilnya, memindai halaman pertama sekilas sambil sesekali mengangguk kemudian mendongak, “Terima kasih. Kau sampai repot membawakannya untukku,” Sumin tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa,” Chanyeol menggaruk tengkuknya, “Lagipula aku…” ia menjeda, ragu untuk berkata tapi dorongan untuk mengungkapkannya terlalu kuat. Dan konflik internal antara otak dan hatinya akhirnya dimenangkan oleh sang hati. “Sebenarnya aku mengkhawatirkanmu” katanya serius, tapi jantungnya menggila.

“Kuharap seonbae tidak bertanya mengapa aku tidak datang.”

Kegilaan dalam rusuk kiri Chanyeol seketika terhenti. Chanyeol memang tidak berharap Sumin akan merespon dengan senyuman sambil bersemu, tapi ia lebih tidak mengharapkan jawaban semacam itu. Apalagi Sumin mengucapkannya dengan ekspresi dingin seperti kemarin. Senyumnya tadi lenyap entah ke mana. Dengan begitu Chanyeol terpaksa mengubur jauh-jauh hasratnya untuk mengumpulkan potongan puzzle yang tersisa.

“Tidak… aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja” itu sungguhan.

“Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu seonbae khawatirkan. Sekali lagi terima kasih” membungkuk kecil, Sumin nyaris menutup pintu rumahnya jika Chanyeol tidak buru-buru berseru,

“Tunggu !”

Chanyeol merindukan Sumin dan melihatnya selama lima menit jelas tidaklah cukup. Chanyeol ingin bersama Sumin lebih lama lagi. Masalahnya, ia tidak punya alasan untuk tetap tinggal dan otaknya tidak berguna sama sekali dalam keadaan genting. Sementara Sumin terus menatap gerak-geriknya. Gadis itu pasti sadar jika ia sedang gelisah.

“Begini” Chanyeol memulai, “Bukankah hari ini hari kamis ?”

Sumin bergumam membenarkan, tapi ia tidak punya gagasan mengapa Chanyeol tiba-tiba menanyakan hari.

“Besok hari jumat, kan ?” Sial. Chanyeol merutuki lidahnya yang tiba-tiba kehilangan esensi. Kenapa juga ia harus membicarakan hari sementara ada jutaan topik lain yang bisa ia angkat.

Tapi saat itu Sumin tertawa, sehingga Chanyeol berbalik mensyukuri lidahnya. “Apa seonbae lupa nama-nama hari ?”

“Maksudku. Hari ini sangat panas, ya ?” Chanyeol masih saja kikuk.

“Ini memang musim panas” balas Sumin dengan lengkungan cantik itu.

Melihat itu Chanyeol hanya bisa terperanjat. Ia tertegun sampai keduanya terlibat dalam keheningan. Sampai tiba-tiba lidah Chanyeol berkata asal, “Aku… haus.”

Lagi-lagi Sumin tertawa. Dan Chanyeol sudah tidak peduli jika Sumin menertawai kebodohannya karena kini Sumin membuka lebar pintunya, “Masuklah seonbae, akan kubuatkan minum”

“Kalau kau tidak keberatan”

“Tentu saja tidak”

Kepala Chanyeol berputar sejenak, menilai interior ruangan yang terkesan hangat tapi elegan. Juga ada bau-bauan yang megingatkan Chanyeol akan padang rumput yang luas yang ditumbuhi ilalang dan dandelion, dan angin dengan lembut menerbangkan benih dandelion tersebut.

“Mana bocah yoghurt ?” Chanyeol menghampiri figura kecil yang berdiri di meja kecil di sudut sofa. Diam-diam bibirnya tertarik menatap betapa bahagianya Sumin yang tengah bermain bersama Eunjoo dalam foto itu.

“Dia bersama ibuku”

Chanyeol menoleh dan secara otomatis bertanya, “Ke mana ?”

Tak ada jawaban dari Sumin. Jadi Chanyeol mengalihkan pembicaraan pada buku dan alat tulis yang berserakan di atas meja. “Kau sedang mengerjakan tugas rupanya” katanya sambil duduk di sofa hijau tosca yang disandari bantal kursi bermotif tulip.

“Hm… tapi ada beberapa yang tidak kumengerti dan malah tertidur”

“Biar kulihat. Aku mungkin bisa membantumu” dengan percaya diri Chanyeol mencondongkan tubuh, menarik buku Sumin dan hanya butuh tiga detik ia menyesali perkataannya tadi. Ini adalah matematika dan sesungguhnya Chanyeol tidak berteman baik dengan sekumpulan rumus terkutuk itu.

“Bagaimana ?”

Suara Sumin menyadarkan Chanyeol untuk segera menghentikan dirinya membuat wajah kaku. Dia tidak mau tampil memalukan di hadapan Sumin. “Y-Ya… mudah. Aku pinjam pulpenmu” katanya seraya meraih pulpen biru yang menganggur di samping kalkulus.

“Aku ke dapur dulu”

Begitu Sumin memunggungi Chanyeol, secepat kilat Chanyeol mencabut ponsel dari sakunya, mengaktifkan kamera, memotret tulisan tangan Sumin lalu segera mengetuk obrolan  terakhir.

Chanyeol

Mana Kyungsoo ? aku butuh bantuannya

Kyungsoo

Apa ? kenapa masalahmu tidak habis-habis ?

Chanyeol

Soo, tolong selesaikan soal ini untukku

wpid-p_20150903_083233

Cepat Soo, waktuku sedikit

Kyungsoo

Ini soal kelas dua dan kau tidak bisa menjawabnya ?

Baekhyun

Ck, ck. Apa yang kau lakukan selama kelas 2 ?

Chanyeol

Seperti kau bisa saja, Baek =o=

Jongdae

Bukankah kalian berdua menghabiskan waktu bersama di pojok belakang ?

Jongin

Uwow….

Baekhyun

–____–

Chanyeol

Ayolah, berdebatnya nanti saja setelah kyungsoo selesai

Jongin

Hey, itu PR yang diberikan Kim saem ! *poke-Sehun

Sehun

Benar. Darimna kau mendapatkannya, hyung ?

Seingtku aku tidsk pernah memprlihatkan buluku psdamu

Chanyeol

Bulu ?

Demi apapun aku tidak berminat melihat bulumu Sehun

Sehun

Maksudku buku, hyung

Chanyeol

Memang tidak Sehun-ah =o=

Tolong perhatikan pesanmu sebelum kau kirim

Baekhyun

Astaga, mataku perih membaca chat-mu oh sehun

Jongin

Sehun, typo mu sangat keterlaluan TT__TT

Jongdae

Aku sarankan kau pergi kursus mengetik Sehun-ah

Chanyeol

Jadi, apa kalian sudah menjawabnya ?

Jongin

Belum. Aku bahkan lupa kalau ada PR

Sehun

Haha… kau benar Jongin

Chanyeol

Kalian memang payah

Jongin

Sungguh menjengkelkan disebut payah oleh orang yang payah

Jongdae

HAHAHA

Chanyeol

=__= tunggu saja kau hitam

Soo, apa kau sudah selesai ?

Kyungsoo

Ini…
wpid-p_20150903_085320.jpg

Sehun

Yehet…. Ada contekan gratis

Chanyeol

Terima kasih Kyungsoo-ya

Sumin kembali dengan dua gelas jus jeruk serta dua puding di atas nampan tepat ketika Chanyeol selesai menyalin jawaban Kyungsoo pada selembar kertas. Lalu dengan kalem Chanyeol berakting seolah ia yang menguras otak menyelesaikannya.

Sore itu berjalan dengan baik. Sikap dingin yang sempat menyelubungi Sumin perlahan pudar. Sumin kembali menjadi pribadi yang ceria seperti kemarin dan Chanyeol menyukainya teramat sangat. Mereka mengobrol dengan akrab dan tak jarang Chanyeol menyelipkan lelucon yang membuat Sumin tergelak. Mereka juga latihan drama atas usulan Sumin. Dan Chanyeol bersyukur bisa menghabiskan sore itu dengan begitu manis seperti puding karamel buatan Sumin.

-FLECHAZO-

Chanyeol membiarkan buku kimianya terlentang pasrah di atas meja bersama lembaran tabel periodik unsurnya. Sementara pikirannya melanglang buana entah ke mana. Malam ini Chanyeol benar-benar tak berselera mereaksikan rumus kimia secara teori, karena reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam kepalanya berkontribusi menghasilkan endapan yang menyumbat daya pikirnya.

Intinya Chanyeol pusing memikirkan nasibnya dua hari ke depan, pusing memikirkan jigsawnya yang belum sempurna, pusing dengan perkataan Kyungsoo siang tadi dan pusing dengan sosok Sumin yang seolah tengah bermain petak umpet dalam benaknya. Belum lagi essai kimia yang minta diperhatikan.

Tak mau mati muda karena stres, Chanyeol memilih berkunjung ke chatroom. Mengobrol bersama orang-orang abnormal setidaknya bisa memicu pelepasan hormon serotoninnya, meskipun mereka hanya bicara ngawur. Diraihnya tas ransel yang terkait di samping meja belajar, lalu mengaduk isinya untuk menemukan benda tipis itu.

Tapi ponselnya tak ada di sana.

Berdiri dari tempatnya, Chanyeol menghampiri seragam biru dongker yang tergantung di sisi lemari. Ia menggeledah seluruh sakunya namun nihil. Tak ada apapun di sakunya kecuali bungkusan permen mint yang lupa ia buang sejak bulan lalu. Seraya melesat keluar, Chanyeol menggali ingatannya tentang di mana terakhir kali ia menyimpan benda vital itu. Tapi sekali lagi, otaknya tersumbat, ia tidak ingat sama sekali.

Tanpa ketukan, Chanyeol menyerobot masuk ke dalam kamar Yoora dan mendapati wanita itu mempelototi layar laptop sambil mesem-mesem seperti orang gila. Yeah, Yoora memang gila, jadi Chanyeol tidak akan heran lagi.

“Noona, ponselku hilang. Aku pinjam ponselmu dulu untuk mencarinya,” kata Chanyeol sambil merampas ponsel Yoora yang tergeletak di tempat tidur. Yoora sendiri bergumam ya dari meja kerjanya. Wanita galak itu nampaknya terlalu bahagia untuk memulai adu mulut dengan Chanyeol. Jadi sebelum Yoora dirasuki iblis dan beralih melabraknya, Chanyeol bergegas angkat kaki dari sana.

Harusnya seperti itu. Tapi Chanyeol jadi tertahan saat Yoora yang pandangannya terpaku pada monitor tiba-tiba bertanya, “Yeol, menurutmu baju mana yang bagus ?”

Sambil memutar bola mata, Chanyeol menghampiri Yoora. Rupanya wanita duplikat ‘mama Shinchan’ itu sedang menilai beberapa gambar baju dari toko online. Yoora mendongak begitu Chanyeol menjulang di sampingnya, “Yang pink atau yang merah ?”

Chanyeol menelik pilihan Yoora sekilas. Keduanya adalah gaun malam. Satu yang berwarna pink jenis pink-nya benar-benar nyentrik, berkelap-kelip, dengan bawahan yang terlalu tinggi dan walaupun di bagian depan dadanya terbuka, bagian belakangnya justru mengekspos seluruh punggung pemakainya. Sedangkan yang berwarna merah, warnanya terlalu menyala, yang Chanyeol yakini akan langsung merusak retinanya jika baju itu nyata di hadapannya. Belum lagi dengan rumbai-rumbai menggelikan yang dipasang di bagian dada, dan Chanyeol tidak mengerti mengapa harus ada lubang besar di kedua sisi pinggang baju itu. Chanyeol jadi bertanya-tanya orang gila mana yang akan membeli gaun itu.

Oh, ya, kakaknya gila tentu saja.

“Kalau kau berniat mengikuti parade norak, dua-duanya sangat cocok untukmu” kata Chanyeol acuh tak acuh sambil mengetik nomornya di iphone Yoora.

“Aku suka yang merah jambu. Bagaimana ?”

“Terserah kau saja. Aku tidak peduli” Chanyeol mengibaskan tangan, berputar pergi dengan ponsel yang menggantung di telinga kanannya. Nomornya tersambung tapi Chanyeol tak mendengar ada tanda-tanda ponselnya di rumah ini. Sementara Yoora berteriak di balik dinding kamarnya,

“Tentu kau peduli… karena ini baju yang akan kau pakai dua hari lagi !”

Bahkan ketika Chanyeol menutup pintu kamarnya dengan wajah pucat pasi, ia masih bisa mendengar teriakan maha dahsyat Yoora,

“DUA HARI LAGI !!! HAHAHHAHA…..”

Sialan. Chanyeol kepayahan menelan saliva. Kakak tersayangnya ternyata sudah menyiapkan ‘kado istimewa’ dan berhasil membuatnya keringat dingin. Yeah, jadi setidaknya Chanyeol punya gambaran hukuman apa yang akan ia jalani nanti. Hanya saja Chanyeol tidak punya kesiapan mental untuk menanggung malu dengan mengenakan pakaian – yang sungguh sangat menjijikkan – itu. Oh, dia harus mencari cara untuk menang.

Hampir setengah jam berlalu dan usaha Chanyeol untuk menemukan ponselnya nampaknya sia-sia. Ia jelas mendengar bunyi ‘beep’ di seberang sana tapi ini sudah panggilan yang ke tiga puluh namun tak ada yang menjawab. Lalu di detik-detik terakhir nada monoton itu akhirnya terputus dan digantikan satu sapaan,

“Yeo-yeoboseyo…”

Chanyeol tahu siapa pemilik vocal lembut nan merdu itu. Dan seolah terpogram sebelumnya, saraf pusat Chanyeol dengan kilat memacu nadinya untuk berdenyut seratus kali per menit.

“Ss-Sumin-ssi ?”

“Oh, itu kau rupanya, seonbae. Syukurlah…” terdengar helaan nafas di ujung telepon, membuat Chanyeol penasaran mengapa Sumin kedengaran lega. “Aku menemukan ponselmu di bawah kursi. Maaf karena tidak mengangkat panggilanmu. Tertera ratu iblis jadi aku benar-benar ragu menjawabnya”

Ah, Chanyeol benar-benar lupa jika ia menulis ‘Ratu iblis’ untuk ID Yoora dan bahkan memasang gambar medusa sebagai foto profilnya. Ia tertawa dalam hati. Sumin begitu polos. “Kau tidak salah Sumin-ssi. Kalau aku jadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama”

“Benarkah ?”

“Tentu… aku bahkan mungkin akan membuangnya” gurau Chanyeol sambil terkekeh pelan dan Chanyeol senang mendengar Sumin juga ikut tertawa.

“Tapi aku tidak bisa membuangnya”

“Kenapa ?”

Hening sejenak, “Karena ini ponsel milik seonbae”

Deg. Chanyeol merasa seakan-akan ia baru saja dilempar ke luar angkasa yang hampa udara, sehingga nafasnya tercekat di dada dan ia beserta organ dalam tubuhnya melayang-layang di galaksi. Sungguh perasaan yang menyenangkan namun juga berbahaya.

“Aku akan segera ke sana… kalau kau tidak keberatan”

“Maaf, aku tidak bisa”

“Kenapa ?” tanya Chanyeol skeptis.

“Bisakah seonbae tidak menanyakan alasannya ?”

“Kalau begitu besok kau harus datang ke sekolah. Aku akan menunggumu di halte”

“Aku….” Sumin terdiam sejenak, sementara Chanyeol mengulangi mantra di kepalanya, ‘ayolah, ayolah, ayolah !’

“Baiklah”

Secara refleks Chanyeol terlonjak dari kursinya, berteriak ‘hore’ dalam hati, sambil melakukan gerakan ala suporter sepak bola yang tim kesebelasannya berhasil mencetak gol setelah seri di babak pertama.

Seonbae… terima kasih” kata Sumin dan memutus hiperaksi Chanyeol.

“Untuk ?”

“Karena kau mau mengerti”

“Tentu saja,” ada jeda, “Karena aku menyukaimu,” lanjut Chanyeol dengan nada suara benar-benar serius. Tapi sebagai dampaknya, ia terlalu canggung untuk mengobrol lebih lama lagi. Karena itu Chanyeol buru-buru menyudahinya dengan ucapan, “Selamat malam.”

Oh, ada satu hal lagi yang harus dilakukan Chanyeol untuk berjaga-jaga. Ia menyentuh logo program chat, menunggu hingga interface muncul sempurna, mengetikkan ID teman-temannya secara bergantian, lalu mengundang mereka dalam obrolan grup.

Yoora added Baekhyun and 4 others to conversation

Baekhyun

Selamat malam noona

Sehun

Noona, kau yang terbaik ! aku menonton berita yang noona bawakan kemarin.

Jongdae

Noona, aku adalah fansmu. Aku akan mengawasi Chanyeol untukmu

Jongin

Noona, aku akan menimpuk kepala Chanyeol hyung untukmu

Yoora

Noona kepala kalian !!!

Hya, Kim Jongin, kita lihat seberapa berani kau menimpuk kepalaku

Ini aku, Chanyeol

Jongdae

Ini benar kau PARK CHANYEOL ?

Yoora

Ya, Jongdae

Kyungsoo

Oh, untunglah, aku hampir menyapa noonamu secara pribadi

Sehun

Kupikir tadi Yoora noona minta konfrensi pers perihal hubungan Chanyeol hyung dengan Baekhyun hyung

Baekhyun

-__-

Yoora

Aku tidak menyangka kalian tega membangun aliansi di belakangku

DENGAN KAKAKKU SENDIRI

Apa kalian sahabatku ?

Jongdae

Yang sahabatnya Chanyeol tolong angkat tangan ~o~

Jongin

Boleh aku angkat kaki ? XD

Kyungsoo

Sahabat apanya ? kita hanya membutuhkan kemampuan musikalitasnya

Sehun

Ya, hubungan kita hanya sebatas anggota band, tidak lebih hyung

Yoora

Tega sekali kalian T___T

Jongdae

Tapi aku tahu siapa yang akan mendukungmu, Yeol

Yoora

Siapa ?

Jongdae

Kekasih gelapmu

Baekhyun

Harusnya grup ini ditaburi garam untuk mengusir setan

Yoora

Kau benar, Baek

Jongdae

Kyungsoo-ya, kau disindir tuh XD

Baekhyun

Maksudku kau Jongdae !

Kyungsoo

Aku tidak merasa. Lagipula aku ini malaikat 😀

Jongin

Hyung, perkataanmu membuatku ingin ke toilet

Yoora

Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba merinding

Sehun

Aku sudah mengambil garam

                     Yoora

Untuk apa Sehun-ah =o=

Sehun

Pengusiran setan

Jongdae

Astaga, anak ini benar-benar polos =o=

Jongin

Coba lempar ponselmu, Sehun. Itu cara terjitu ^^

Sehun

Jangan menipuku Black guy. Aku tidak bodoh !

Baekhyun

Omong-omong ada apa dengan ponselmu, Yeol ?

Yoora

Oh, akhirnya ada yang menanyakannya

Ponselku tertinggal di rumah Baek Sumin

Aku hanya ingin bilang jangan ada yang mengirim pesan aneh ke IDku

Itu saja

Hey…

Apa kalian sudah melakukannya ?

Jawab aku

Ping

Pong

Hya !!

Baekhyun

Astaga, jangan berisik Park yoda ! aku sedang menyesali perbuatanku

Yoora

Kau mengirim apa Baek ? perasaanku tidak enak

Kyungsoo

Aku hampir saja mengirimnya tapi untungnya aku membaca ini

Jongdae

Sebenarnya aku juga tadi mengirimimu pesan

Sehun

Aku juga hyung


Jongin leave conversation


Yoora

APA ???

Kenapa Jongin kabur ?

Baekhyun

Yoora noona tiba-tiba menambahkan kita, memang siapa yang tidak terkejut ?

Yoora

Kalian tidak menyinggung apapun tentang taruhan, kan ?

Baekhyun

Aku lupa

Sehun

Mungkin sedikit

Jongdae

Tidak yakin

Kyungsoo

Entahlah

Yoora

Jadi yang mana yang benar ? -_-

Kyungsoo

Tidak perlu khawatir. Aku yakin Baek Sumin bukan orang yang senang mengupas privasi orang lain

Baekhyun

Dia tidak akan membuka pesanmu

Sehun

Dia bahkan tidak tertarik pada ponselmu hyung

Jongdae

Yeah, untuk apa dia membuka ponsel orang sepertimu ?

Yoora

Kenapa aku merasa disinggung secara tersirat ?

Bibir Chanyeol mendecih. Benar-benar baik hati teman-temannya itu membuat kegelisahannya meroket. Seraya berikrar dalam hati akan menggantung satu per satu kepala mereka jika masalah bertambah rumit, Chanyeol mengetikkan sesuatu tetapi jemarinya terinterupsi oleh pekikan Mama Park dari lantai bawah,

“Yeol-ah, ada telepon untukmu sayang !”

Menyahut dengan desibel yang sama, Chanyeol lalu melejit keluar dan menuruni tangga dengan iringan hentakan kaki yang cukup kuat untuk membuat Yoora melaung dari dalam kamarnya,

“JANGAN HANCURKAN RUMAH, RAKSASA !!!”

Chanyeol hanya mencibir sebagai jawaban sambil bergegas menuju ruang keluarga, kemudian mengangkat gagang telepon yang dibiarkan mamanya terbuka. Dan begitu ujung telepon menempel pada daun telinga Chanyeol, suara Jongin langsung menghantam reseptor pendengarannya yang sensitif,

“Hyung, GAWAT !!!

Membran timpani Chanyeol berdengung sebagai efeknya. Tapi, lebih dari itu, sesungguhnya kepanikan Jongin lah yang paling meresahkan. “Kenapa ? ada apa ?” tanya Chanyeol tak sabar, ikut terbawa suasana.

“Aku memeriksa chatku dan kulihat sepertinya dia sudah membacanya”

Mata Chanyeol melebar dalam sepersekon, “Apa !?? Pesan apa yang kau kirimkan padaku ?

“Itu….”

~TBC~

Haiii, haiii… teman-teman, kakak dan adik-adik sekalian, salam kenal..

pertama-tama aku mau ketawain itu yang di atas yang panjangnya kebangetan dan anehnya minta ampun… buahahahhaha….  XD Semoga saja gak da yang ketiduran bacanya karena sepertinya ceritanya membosankan yaaa >_< Belum lagi dengan typo yang tersemai dan alur yang belok-belok. Maaph telah membuat ceritanya semakin gaje (_ _) *bow  silahkan dikritik sepuasnya, aku senang dapat kritikan 😀 😀

Trus, makasih banyak buat IlaChan yang sudah mengikutkanku yang pemula ini dalam project dan membuatku banyak belajar daari para authors lain yang pada kece2 ^^

Dan untuk ApreelKwon … semangat yaaa untuk chapter selanjutnya… aku yakin kamu bisa memperbaiki kesalahan khilafku XD

*Glosarium

Dismenore : nyeri yang menyerang perut (di bagian rahim) yang terjadi selama menstruasi.

Pedofilia : berasal dari bahasa Yunani ; paidophilia (anak-anak) dan philia (cinta yang bersahabat). Adalah gangguan kepribadian pada orang dewasa (lebih dari 16 tahun) yang ditandai dengan dorongan aktivitas seksual yang melibatkan anak prapuber (usia 13 tahun atau lebih muda atau minimal 5 tahun lebih muda dari penderita). Penderita dapat tertarik pada anak laki-laki, perempuan, maupun keduanya. Kelainan ini lebih banyak dialami pada laki-laki tapi ada juga dialami oleh wanita.

Obsesif kompulsif : gangguan kecemasan yang umumnya dicirikan oleh kebutuhan obsesif (pemikiran, dorongan atau gambaran berulang dan terus menerus yang mengganggu) seseorang untuk melakukan tugas atau serangkaian tugas tertentu.

Hormon serotonin : neurotransmitter monoamino yang diproduksi di sistem saraf pusat dan pencernaan yang mengontrol mood atau suasana hati, nafsu makan dan tidur.

Medusa : Makhluk mitologi Yunani yang semula cantik tapi dikutuk menjadi monster yang memiliki rambut ular dan tatapan matanya akan mengubah mahkluk apapun menjadi batu.

Iklan

39 thoughts on “[FF berantai] Flechazo : Complicated

  1. aduh asik bgt baca ceritanya, berasa ngga minum es sebulan dan tiba2 dpt gratisan es krim 😀
    Sekarang yg tersembunyi telah terbuka tinggal bagaimana penulis selanjutnya meneruskan apa kejutan yang ada di dalamnya… semangat yang belum nulis!!

    Disukai oleh 1 orang

  2. astaga sumpah ini ff yg terpsnjang dan bikin ngakak supah aq gk bosan bacaxa.. malah baca tbc aq sebel tbcx gk ngenain bgt jdi bikin pnasaran tingkat akurat dech…smiga yg buat ff brante kdpanxa sama bgusxa dg yg ini atau lbih bgus lagi..uhh gk sabarrr pengen tau apa yg nreka obrolin d chat room chanyeol

    Suka

  3. wah, udah jauh juga ternyata project ini…
    Selamat udah selesein bagian kamu 🙂
    take a spot dulu yah, nanti aku balik lagi harus backtrack chapter-chapter sebelumnya. udah ketinggalan jauh bacanya^^

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wiiih, good job banget yumi..kau sangat hebat, kekacauan yang udah aku buat tertutupi dengan lanjutan cerita yang kau buat ini!! Bahasanya bagus banget, dan aku suka stiker yang kamu tambahin pas di percakapan mereka itu. Rasanya fresh dan sangat menarik. Selamat yaaaaa

    Disukai oleh 1 orang

  5. Buka twitter dan e-x-cited baca mention kamu lanjutan ff ini udah lanjut,
    OMG, finally my turn, setelah nunggu beberapa chapter..
    yuhuuuu~
    dan ceritanya makin klimaks,
    Ugh! aku suka sama akhirnya, jadi lebih gampang buat nyusun masalahnya,
    thanks Mi, chapteran kamu ini luar biasa banget, aku suka! serius,
    bahasanya enteng, ceritanya ngalir,
    thanks udah mempermudah ide aku,

    huhu, semoga minggu depan aku bisa posting,
    selamat Mi, dan Terimakasih..
    /hug/

    Disukai oleh 1 orang

    • wahaaa.. semangaat semangaaat… !!
      dan makasih =o= aku terharu T^T … syukurlah klo idenya ngalir.. padahal niatku mau bikin mampet (?) ahahhaaaa…. becanda *abaikan XD
      aku tunggu lanjutannya *kisseu

      Suka

  6. WAAHH AKHIRNYA KELUAR JUGAA XD
    Aku belum baca untuk keseluruhannya, dan juga sepertinya ini dialog yang ama menyenangkan untuk dilihat, kebiasaan cerita berantai begini selalu saja menggantung, aku makin cinta saja 😀 /eaa/
    untuk kak april, semangat ya kak! semoga makin geregetan :3

    Suka

Analysis ~ Periculum in Mora

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s